Keinginan manusia kadang seperti air.
Tak pernah henti untuk selalu mengalir. Selama masih ada celah, di situlah air
mengalir. Bedanya dengan air yang mengalir ke tempat lebih rendah, nafsu terus
mengalir ke arah sebaliknya.
Manusia bisa dibilang makhluk yang
jarang cepat puas. Selalu saja ujung dari sebuah pencarian lagi-lagi bertemu
pada satu titik: kurang. Keadaan itu persis seperti orang yang selalu mendongak
ke atas. Dan lengah menatap ke bawah.
Itulah kenapa orang tanpa sadar
kehilangan daya peka. Kepekaannya dengan lingkungan sekitar menjadi tumpul.
Bahkan mungkin, di tengah hiruk pikuknya mengejar yang atas, tanpa terasa kalau
yang di bawah terinjak-injak. Jadi, pisau kepekaan bukan sekadar tumpul, bahkan
berkarat sama sekali.
Orang menjadi tidak mampu menyelami
apa yang terjadi di sekelilingnya. Sulit merasakan kalau di saat kita terlelap
dalam keadaan kenyang, sejumlah tetangga terus terjaga karena menahan perut
yang lapar. Sulit menangkap keinginan anak-anak tetangga untuk tetap
bersekolah, ketika sebagian kita tengah sibuk mencari sekolah top buat
anak-anak, berapa pun mahalnya.
Ketidakpekaan itu akhirnya
menggiring diri untuk tampil tak peduli. Kesederhanaan menjadi barang langka.
Ada semangat tampil serba wah. Ada bahasa yang sedang diungkapkan, “Saya memang
beda dengan kalian!”
Ketika terjadi proses melengkapi
kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, perumahan, pendidikan, dan mungkin
hal-hal lain seperti alat komunikasi; ada pergeseran yang nyaris tanpa terasa.
Sebuah pergerseran dari nilai fungsi kepada nilai gengsi.
Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pokok
itu tidak lagi menimbang sekadar fungsi, tapi lebih kepada gengsi. Ada sesuatu
yang sedang dikejar dari proses pemenuhan itu: trend dan gengsi. Biasanya,
nilai gengsi jauh lebih mahal dari nilai fungsi. Bahkan, bisa berkali-kali
lipat.
Di sisi lain, ada semacam
ketergantungan dengan penampilan mode yang tentu saja datang dari negeri
pedagang budaya. Mereka begitu pintar mengemas barang dagangan dalam bentuk
yang sangat menarik. Halus, tanpa kesan menggurui. Kemasan bisa melalui film, berita mode dan sebagainya. Tanpa sadar,
orang sedang terhipnotis dalam cengkeraman para pedagang budaya. Repotnya,
ketika pedagang budaya sebagian besar menuhankan hidup materialistis. Semua
tanpa sadar menuhankan gengsi.
0 komentar:
Posting Komentar